Rahmat Shah Harapkan ISMI Berperan Penting dalam Pembangunan Bangsa dan Solusi bagi Masyarakat Melayu
Ketua Dewan Pembina Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI), Rahmat Shah, menyatakan bahwa ISMI memiliki peran strategis dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara. Sebagai wadah para sarjana dan cendekiawan Melayu, ISMI diharapkan berada di garda terdepan dalam menjaga semangat nasionalisme, terutama dalam mempertahankan akar Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu sesuai sejarah Sumpah Pemuda 1928.
Rahmat Shah menekankan bahwa ISMI harus mampu membangun suasana kebersamaan, baik secara internal maupun dalam keberagaman jati diri Bangsa Indonesia. Dengan anggota yang terdiri dari guru besar, anggota dewan, doktor, hingga sarjana muda dari berbagai bidang ilmu, ISMI dituntut memberikan masukan konstruktif dan produktif demi kesejahteraan rakyat.
"Sebagai organisasi cendekiawan Melayu, ISMI harus bisa memberi masukan yang konstruktif dan produktif bagi pembangunan bangsa dan negara demi memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia. Keberadaan ISMI yang anggotanya tersebar di seluruh tanah air dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," ujar Rahmat Shah pada Senin, 23 Juni 2025.
Selain itu, beliau menyoroti peran internal ISMI dalam membantu mencarikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat Melayu, meliputi aspek ekonomi, sosial, pendidikan, hingga partisipasi dalam politik dan birokrasi. Rasa kepedulian ini dinilai penting untuk diwujudkan, baik di lingkungan masyarakat Melayu sendiri maupun dengan etnis lainnya.
Secara pribadi, Rahmat Shah menyatakan kesiapannya untuk mendukung peningkatan kinerja organisasi, termasuk dalam aspek pemikiran dan optimalisasi fungsi kesekretariatan. Beliau berharap di bawah kepemimpinan Nizhamul dan pengurus saat ini, ISMI dapat menjadi organisasi yang lebih maju, modern, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat Melayu.
Sebagai informasi, Rahmat Shah merupakan tokoh yang telah menerima berbagai penghargaan nasional, di antaranya Penghargaan Primaniyarta dari Presiden Soeharto, Satyalancana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo.